punyavivi sajalah
Pagi sekali, Zya membangunkan papanya. Meminta segera diantarkan ke rumah om dan neneknya.
“Papa, Zya uda siap nih. Papa mandi gih! Zya pengen cepet-cepet pulang.”kata Zya.
“Iya sayang, nanti papa anterin.”
Setibanya di rumah, Zya lari ke kamarnya. Ternyata Zya langsung memeluk erat sebuah cermin kuno milik mamanya. Tepat dibelakang cermin itu, Ia tuliskan namanya dan nama mamanya berdampingan dan sebuah gambar hati terselip diantara keduanya. 
Ketika sedang termenung duduk menghadap sebuah jendela, dilihatnya neng Wafa yang bermain bersama bi Karin dan Om Yusuf. Sekejap perasaan sedih itu muncul lagi. Rasa sepi terus menyelimuti hati Zya yang retak. Zya bertanya, kapan dirinya akan merasakan apa yang anak lain seusianya rasakan, yaitu melewati masa kanak-kanak bahagia, lengkap bersama kedua orang tua yang sangat dicintainya. Namun, keinginan itu seakan mustahil untuk Zya alami.
“Mama, Zya cape kayak gini.. Zya nggak butuh apa-apa Mah.. Zya cuma butuh Mama .. Papa .. untuk selalu ada disamping Zya kapanpun Zya butuh.”, bisik Zya lembut, memeluk cermin dengan air yang mengalir deras dipipinya.
“Zya, cepetan mandi. Kita jalan-jalan yuk! Nanti biar bibi yang mandiin.” seru Bi Karin.
Sepanjang perjalanan Zya hanya terdiam tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Zya hanya terus memandangi jalan lewat kaca mobil. Pikirnya, mungkin hal ini akan lebih menyenangkan jika yang sekarang bersamanya adalah orang tua tercintanya. Seperti neng Wafa yang wajib bersyukur karena bisa menikmati masa kecil bersama dua orang yang paling berarti dalam hidupnya.
***
Dua tahun berlalu, akhirnya kebahagiaanpun memihaknya. Mama, papa kini telah bersama lagi. Entah apa yang membuat semua kembali. Takdir? Memang iya. Ataukah kesadaran dari keegoisan? Mungkin juga benar. Ya sudahlah, yang jelas Zya rasa hal ini lebih baik dari sebelumnya.
Namun kenangan buruk masa lalunya, kini menjadi bayang-bayang yang selalu menghantui diri dan hati Zya. Seakan kenangan pahit itu tak pernah lepas dari ingatannya. Semua begitu jelas terekam dalam memory, tangis, kesedihan, amarah, hasrat dan penyesalan sangat lekat dengannya.
“Andai waktu bisa terulang kembali, aku ingin mengubah semuanya menjadi lebih indah. Aku ingin masa ku yang lalu berjalan sesuai dengan apa yang ku harapkan. Tapi semua itu seolah menjadi catatan. Catatan hitam yang tak pernah bisa terhapuskan. Catatan kelam yang tak mungkin kuubah dan ku ganti dengan warna-warni keunikan ekspresiku. Tuhan, aku tak pernah meminta untuk dilahirkan dalam keluarga yang tercerai berai seperti itu. Aku hanya ingin masa ku kembali, tanpa secercah penyesalanpun mengikuti. Dan siapakah yang harus bertanggung jawab mengembalikan itu?? Nggak ada kan?? Andai mereka tahu, kesedihan itu masih tersimpan lekat di dadaku. Tak ada satupun yang pedulikan itu. Mungkin iya sekarang aku bisa kembali bersama mereka. Tapi ingatlah satu hal, aku butuh kasih sayang ekstra untuk sedikit menutupi luka yang sulit mengering.” (Zya’s diary, 2009)
punyavivi sajalah
Seorang anak bahagia ketika ia mulai bisa mengerti lingkungannya. Memahami setiap helai kehidupan yang terselip diantara celah hidup. Memaknai setiap kejadian yang dialami dan menghayati beribu kebahagiaan yang hinggap dikesehariannya. Keadaan itu seolah berbanding terbalik 360 derajat dengan apa yang Zya, seorang anak yang entah kenapa harus menanggung semua masalah yang tak seharusnya dialami oleh seorang anak belia sepertinya.
“Semua berjalan diluar dugaanku, semua berjalan sesuai ego masing-masing dan nekat mengorbankan masa ku” ( Zya , 2000)
“Nenek, apakah mama akan datang menemuiku minggu ini ? aku kangen mama.”, Zya mulai merenung.
Nek jojo hanya bisa tersenyum dan mengusap kepala Zya ragu.
Tidak lama kemudian , “Zya …”
“Mama .. “, terlukis bahagia di raut wajah gadis kecil itu.
Zya seakan tak lepas memeluk erat mamanya. Hari itu ia habiskan hanya untuk bersama mama tercintanya. Namun dalam hatinya ia pun mulai bertanya keberadaan papa yang lama tak menunjunginya. Sedangkan besok pagi mamanya harus pergi kembali meninggalkan Zya.
Hari pertama masuk sekolah, Zya merasa bahwa hidupnya mungkin akan berubah. Teman baru mungkin akan membuatnya tidak merasa sendirian lagi. Perlahan Zya mulai masuk kelas. Dilihatnya anak-anak berpakaian seragam rapi didampingi orang tuanya masing-masing. Sejenak Zya termenung, memikirkan kedua orang tuanya yang kini berceceran.
“mama .. papa .. apakah kalian ingat kalo hari ini Zya sekolah ?” bisiknya dalam hati. Dan pelajaran pertamapun diterimanya.
Hari demi hari Zya lewati. Seribu cemoohan dia terima dari tetangga, teman, sodara terdekat sekalipun. Walaupun Zya hanya seorang gadis kecil, namun Zya tahu kondisi orang tuanya kini. Papanya yang telah berkeluarga lagi. Dan mamanya yang kerja dan menetap di luar kota. Terkadang Zya bertanya, apakah mereka tahu tekanan batin apa yang ia terima setiap hari, padahal dia hanya korban yang terpaksa harus menerima konsekuensinya. Namun mereka seakan tak pedulikan apa yang Zya rasa. Hanya Zya dan Tuhan yang tahu tentang hati Zya saat ini.
“anak anak, besok kita akan difoto buat buku rapor. Kalian harus rapi ya !”, jelas Bu Risma, guru Zya.
Serempak anak-anakpun menjawab, “iya bu guru .. “ .
Keesokan harinya Zya berusaha tampil lebih rapi dari sebelumnya dan dia melakukannya sendiri tanpa dibantu oleh siapapun.
Sebelum mendapat giliran, para anak dibantu orang tuanya untuk merapikan kembali pakaian mereka. Tapi bagaimana dengan Zya ? dia hanya sendiri, menatap mereka yang tersenyum bersama mama papanya.
“Tuhan, Zya pengen seperti mereka, ada mama dan papa.” Bisik Zya kaku, menunduk menahan air matanya dan berusaha tersenyum.
“Zya sayang, sekarang giliran kamu Nak ! Yuk ibu bantu.” Ajak Bu Risma. “Ayo sedikit senyum Nak , ayo ! ihh pinter .” tambahnya.
Tiba di rumah, Zya menghampiri Nek Jojo.
“Nek, sekarang hari Jum’at ya? Berarti besok sore mama dateng kan Nek? Kalo papa kapan ya Nek?”Tanya Zya.
“Iya, besok pasti mama dateng, Nde. Nah sekarang tidur ya, udah malem. Nanti gimana kalo mama lihat Nde nggak seger.”
“oia Nek, tapi Zya tidur dmana ya? Zya mau tidur sendiri aja Nek di kamar yang suka mama tidurin.” Jelas Zya.
Sabtu sore, mamanya pun tiba. Zya memeluknya dengan erat. Tanpa sadar Zya pun meneteskan air mata.
“Mama, Zya masih kangen Mama. Mama bisa kan bawa Zya buat tinggal sama Mama aja.”
“Sayang, Mama disana itu buat kamu, Nak! Mama sibuk disana, nanti Zya siapa yang nemenin? Kalo disini kan ada nenek, bibi, si om, sama neng Wafa. Kamu nggak bakalan kesepian. Mama janji akan selalu nengok Zya. Kalo perlu, nanti Zya liburan ikut sama Mama.”jelas mama Zya.
Zya mengangguk tersenyum kecil sambil memeluk mamanya yang kala itu berbaring disamping Zya.
Tibalah saat menyedihkan dalam hidupnya, kala mamanya harus kembali meninggalkan Zya.
“dah Mama..!”
Malam ini, entah apa yang menyelimuti pikirannya. Zya nggak bisa tidur dan terus menerus menangis, memanggil mama dan papanya. Sementara Nek Jojo menenangkan Zya, Bi Karin dan Om Yusuf sibuk menghubungi papa dan mama Zya yang tinggal di tempat lain.
Keesokan harinya, mama Zya pun datang dan membawa Zya ke dokter. Gawat! Ternyata Zya terkena Thypus. Syukurlah tidak ada gejala lain yang dideritanya. Semua keluarga khawatir akan jiwa Zya yang kemungkinan tertekan. Tak lama, papa Zya pun datang dan meminta untuk membawa Zya pergi dan merawatnya. Dengan berat hati, mama Zya mengizinkan mantan suaminya untuk membawa anak semata wayang mereka tinggal bersamanya. Toh dia papanya Zya, pasti dia akan merawat Zya dengan baik.
Selama perjalanan, Zya merasa senang karena keinginannya untuk naik andong terpenuhi.
“Papa, Zya kangen Papa. Zya pengen jalan-jalan sama Papa, sama mama juga.”, sebuah permintaan layaknya seorang anak yang rindu suasana hangatnya keluarga. Namun papa Zya seakan tak menggubris apa yang dikatakan anaknya dan beralih pembicaraan.
“Sayang papa, nanti disana kamu nggak boleh nakal ya! Disana ada dede bayi yang lucu, Nak! Adenya kamu, sayang ..”
Setibanya di rumah, Zya bermain dengan de Reza, adik tirinya yang ia anggap sebagai adiknya sendiri. Namun kala malam tiba, Zya demam tinggi. Papa Zya pun mulai resah melihat anaknya sakit. Setelah Zya tertidur, diapun memindahkan anaknya ke kamar yang saat itu dihuni Bu Tita, mama tiri Zya. Tapi, keanehanpun tiba sesaat setelah Zya dibaringkan disebelah Bu Tita. Tiba-tiba Zya menjerit dan memanggil-manggil mamanya sambil menangis seolah Zya menolak tidur bersama Bu Tita. Segera papa Zya pun langsung menggendong Zya kembali untuk tidur di kamar lain bersamanya.
Besoknya, keadaan Zya sudah mulai membaik. Nggak disangka, Zya meminta untuk dipulangkan kembali tinggal bersama neneknya. Terpaksa, papa Zya pun menuruti permintaan Zya untuk tinggal bersama neneknya.

Bersambung ….
punyavivi sajalah
jika hujan tak berhenti mungkin kau takkan di sisi
jika hati tak berkata mungkin aku tiada lagi
jika kau harus pergi janganlah kau kembali ...
punyavivi sajalah
Segala yang ada di dunia ini tidak lepas dari Takdir Tuhan. Umur, keselamatan, kematian atau jodoh sekalipun . Memang manusia yang merencanakan sesuatu yang mereka harapkan, tapi tetap Tuhanlah sebagai penentu. Jangan sesekali memaksakan kehendak pada orang lain, sekalipun mereka dekat dengan kita, karena itu hanya akan membuatnya gelisah dan tidak nyaman berlama-lama dengan kita, apalagi soal jodoh.
Kita tidak pernah tahu kedepannya akan seperti apa, dan siapakah jodoh kita kelak. kita boleh saja berharap bahwa seseorang yang kita sayanglah pasangan kita. Namun janganlah hanya karena keinginan itu, kita jadi posesif terhadapnya. ketahuilah dia akan merasa tertekan bersamamu.
jalanilah hidup apa adanya, biarlah mengalir seperti air. Berusahalah sewajarnya , dan jangan menghalalka segala cara untuk meraih impian kita..