punyavivi sajalah
Seorang anak bahagia ketika ia mulai bisa mengerti lingkungannya. Memahami setiap helai kehidupan yang terselip diantara celah hidup. Memaknai setiap kejadian yang dialami dan menghayati beribu kebahagiaan yang hinggap dikesehariannya. Keadaan itu seolah berbanding terbalik 360 derajat dengan apa yang Zya, seorang anak yang entah kenapa harus menanggung semua masalah yang tak seharusnya dialami oleh seorang anak belia sepertinya.
“Semua berjalan diluar dugaanku, semua berjalan sesuai ego masing-masing dan nekat mengorbankan masa ku” ( Zya , 2000)
“Nenek, apakah mama akan datang menemuiku minggu ini ? aku kangen mama.”, Zya mulai merenung.
Nek jojo hanya bisa tersenyum dan mengusap kepala Zya ragu.
Tidak lama kemudian , “Zya …”
“Mama .. “, terlukis bahagia di raut wajah gadis kecil itu.
Zya seakan tak lepas memeluk erat mamanya. Hari itu ia habiskan hanya untuk bersama mama tercintanya. Namun dalam hatinya ia pun mulai bertanya keberadaan papa yang lama tak menunjunginya. Sedangkan besok pagi mamanya harus pergi kembali meninggalkan Zya.
Hari pertama masuk sekolah, Zya merasa bahwa hidupnya mungkin akan berubah. Teman baru mungkin akan membuatnya tidak merasa sendirian lagi. Perlahan Zya mulai masuk kelas. Dilihatnya anak-anak berpakaian seragam rapi didampingi orang tuanya masing-masing. Sejenak Zya termenung, memikirkan kedua orang tuanya yang kini berceceran.
“mama .. papa .. apakah kalian ingat kalo hari ini Zya sekolah ?” bisiknya dalam hati. Dan pelajaran pertamapun diterimanya.
Hari demi hari Zya lewati. Seribu cemoohan dia terima dari tetangga, teman, sodara terdekat sekalipun. Walaupun Zya hanya seorang gadis kecil, namun Zya tahu kondisi orang tuanya kini. Papanya yang telah berkeluarga lagi. Dan mamanya yang kerja dan menetap di luar kota. Terkadang Zya bertanya, apakah mereka tahu tekanan batin apa yang ia terima setiap hari, padahal dia hanya korban yang terpaksa harus menerima konsekuensinya. Namun mereka seakan tak pedulikan apa yang Zya rasa. Hanya Zya dan Tuhan yang tahu tentang hati Zya saat ini.
“anak anak, besok kita akan difoto buat buku rapor. Kalian harus rapi ya !”, jelas Bu Risma, guru Zya.
Serempak anak-anakpun menjawab, “iya bu guru .. “ .
Keesokan harinya Zya berusaha tampil lebih rapi dari sebelumnya dan dia melakukannya sendiri tanpa dibantu oleh siapapun.
Sebelum mendapat giliran, para anak dibantu orang tuanya untuk merapikan kembali pakaian mereka. Tapi bagaimana dengan Zya ? dia hanya sendiri, menatap mereka yang tersenyum bersama mama papanya.
“Tuhan, Zya pengen seperti mereka, ada mama dan papa.” Bisik Zya kaku, menunduk menahan air matanya dan berusaha tersenyum.
“Zya sayang, sekarang giliran kamu Nak ! Yuk ibu bantu.” Ajak Bu Risma. “Ayo sedikit senyum Nak , ayo ! ihh pinter .” tambahnya.
Tiba di rumah, Zya menghampiri Nek Jojo.
“Nek, sekarang hari Jum’at ya? Berarti besok sore mama dateng kan Nek? Kalo papa kapan ya Nek?”Tanya Zya.
“Iya, besok pasti mama dateng, Nde. Nah sekarang tidur ya, udah malem. Nanti gimana kalo mama lihat Nde nggak seger.”
“oia Nek, tapi Zya tidur dmana ya? Zya mau tidur sendiri aja Nek di kamar yang suka mama tidurin.” Jelas Zya.
Sabtu sore, mamanya pun tiba. Zya memeluknya dengan erat. Tanpa sadar Zya pun meneteskan air mata.
“Mama, Zya masih kangen Mama. Mama bisa kan bawa Zya buat tinggal sama Mama aja.”
“Sayang, Mama disana itu buat kamu, Nak! Mama sibuk disana, nanti Zya siapa yang nemenin? Kalo disini kan ada nenek, bibi, si om, sama neng Wafa. Kamu nggak bakalan kesepian. Mama janji akan selalu nengok Zya. Kalo perlu, nanti Zya liburan ikut sama Mama.”jelas mama Zya.
Zya mengangguk tersenyum kecil sambil memeluk mamanya yang kala itu berbaring disamping Zya.
Tibalah saat menyedihkan dalam hidupnya, kala mamanya harus kembali meninggalkan Zya.
“dah Mama..!”
Malam ini, entah apa yang menyelimuti pikirannya. Zya nggak bisa tidur dan terus menerus menangis, memanggil mama dan papanya. Sementara Nek Jojo menenangkan Zya, Bi Karin dan Om Yusuf sibuk menghubungi papa dan mama Zya yang tinggal di tempat lain.
Keesokan harinya, mama Zya pun datang dan membawa Zya ke dokter. Gawat! Ternyata Zya terkena Thypus. Syukurlah tidak ada gejala lain yang dideritanya. Semua keluarga khawatir akan jiwa Zya yang kemungkinan tertekan. Tak lama, papa Zya pun datang dan meminta untuk membawa Zya pergi dan merawatnya. Dengan berat hati, mama Zya mengizinkan mantan suaminya untuk membawa anak semata wayang mereka tinggal bersamanya. Toh dia papanya Zya, pasti dia akan merawat Zya dengan baik.
Selama perjalanan, Zya merasa senang karena keinginannya untuk naik andong terpenuhi.
“Papa, Zya kangen Papa. Zya pengen jalan-jalan sama Papa, sama mama juga.”, sebuah permintaan layaknya seorang anak yang rindu suasana hangatnya keluarga. Namun papa Zya seakan tak menggubris apa yang dikatakan anaknya dan beralih pembicaraan.
“Sayang papa, nanti disana kamu nggak boleh nakal ya! Disana ada dede bayi yang lucu, Nak! Adenya kamu, sayang ..”
Setibanya di rumah, Zya bermain dengan de Reza, adik tirinya yang ia anggap sebagai adiknya sendiri. Namun kala malam tiba, Zya demam tinggi. Papa Zya pun mulai resah melihat anaknya sakit. Setelah Zya tertidur, diapun memindahkan anaknya ke kamar yang saat itu dihuni Bu Tita, mama tiri Zya. Tapi, keanehanpun tiba sesaat setelah Zya dibaringkan disebelah Bu Tita. Tiba-tiba Zya menjerit dan memanggil-manggil mamanya sambil menangis seolah Zya menolak tidur bersama Bu Tita. Segera papa Zya pun langsung menggendong Zya kembali untuk tidur di kamar lain bersamanya.
Besoknya, keadaan Zya sudah mulai membaik. Nggak disangka, Zya meminta untuk dipulangkan kembali tinggal bersama neneknya. Terpaksa, papa Zya pun menuruti permintaan Zya untuk tinggal bersama neneknya.

Bersambung ….
0 Responses

Posting Komentar